Translate

Rabu, 12 September 2012

Sebuah kisah di negeri TIMUR 1


NTT (NUSA TENGGARA TIMUR) merupakan salah satu kota yang identik dengan kata “Tertinggal” dan “miskin”. NTT memiliki tanah yang unik yaitu terdiri dari batu karang. NTT adalah cerita lain tentang keindahan pesona Indonesia. Alam yang masih belum terjamah, langit yang begitu bersih menjadi pesona yang memikat hati. Datang ke NTT membuat saya teringat dengan tanah kelahiran saya Timor Leste. Jarak antara NTT dengan Timor Leste tidak begitu jauh, selain itu karakteristik orang NTT memiliki banyak persamaan dengan Timor Leste. Kepolosan dan senyum tulus orang-orang desa membuat perjalanan ini menjadi pengalaman yang sulit untuk dilupakan.

Ketika datang ke NTT, saya diberikan kesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat yaitu Kupang, Soe dan Oelet. Dalam perjalanan ini, saya tidak pergi sendiri tetapi dengan teman-teman satu tim saya yang berasal dari Bogor. Kami adalah sebuah tim yang terbentuk dengan satu tujuan yaitu memberikan dampak bagi Indonesia melalui setiap potensi yang kami miliki. Berbekal pengetahuan dan keahlian-keahlian yang dimiliki dari berbagai bidang kami memiliki komitmen untuk melakukan sesuatu untuk NTT. Ada beberapa hal yang kami lakukan di NTT yaitu mengadakan seminar pemimpin, seminar anak muda, penyuluhan (pertanian, kesehatan dan seks) dan pengobatan gratis yang bekerjasama dengan pihak dokter dari Kupang.

Penduduk NTT dikenal malas dan tidak mau berjuang. Saat saya pergi ke kota itu, ternyata “label” yang digunakan terhadap penduduk NTT tersebut tidak sepenuhnya benar. Saya dan tim yang datang ke NTT secara pribadi terkesan dengan semangat yang dimiliki oleh anak-anak muda di kota ini. Ketika kami mengadakan seminar anak muda UPCC (Unlocking College Conference), kami melihat bagaimana anak-anak muda di kota ini begitu antusias mengikuti serangkaian acara yang kami adakan selama dua hari ini. Fasilitas yang sangat sederhana yaitu ruangan smk yang beralaskan terpal dengan wireless tidak mengurangi semangat para anak muda untuk mengikuti acara tersebut. Dalam seminar ini, ada beberapa materi yang kami bagikan. Pertama, tentang citra diri. Bagaimana mereka dapat menghargai diri mereka. Kemudian dibukakan tentang potensi, free sex, dan cinta bangsa. Banyak pertanyaan yang diajukan oleh peserta terutama ketika sesi free sex. Salah satu pertanyaan yang sedikit menggeletik saya dan sekaligus membuat saya miris ketika seorang peserta seminar bertanya “apakah aborsi salah?”. Pertanyaan ini mengisyaratkan betapa aborsi merupakan sebuah fenomena yang dianggap sudah biasa oleh karena itu benar atau tidaknya tindakan aborsi ini akhirnya menjadi pertanyaan. Kalau kemarin saya hanya mendengar bagaimana pergaulan antara lawan jenis di kota timor ini, hari itu saya dapat menyaksikannya sendiri.

Masa muda adalah saat-saat yang potensial dimana energi yang dimiliki masih maksimal dan kehidupan masih bebas. Banyak keputusan-keputusan penting di masa muda yang membawa perubahan bagi dunia. Di masa muda banyak karya yang dapat dihasilkan. Betapa sayangnya potensi besar yang dimiliki oleh anak-anak muda akhirnya terkunci oleh urusan rumah tangga. Anak-anak muda yang seharusnya dapat mengukir prestasi di bidang seni, akhirnya hanya menjadi seorang wanita yang menggendong anaknya. Anak-anak muda yang tidak siap dan matang memilih untuk mengubur dirinya dalam kematian. Akhirnya berjuta-juta potensi besar terkubur seiring dengan keputusan salah yang diambil di masa mudanya. Fenomena ini membuat saya sadar betapa banyaknya hal yang harus dilakukan dan setidaknya saya sudah melakukan investasi bagi anak muda di sana. Serangkaian acara seminar akhirnya ditutup dengan sebuah komitmen yang diambil oleh anak-anak muda untuk mendedikasikan hidupnya dengan mengatakan tidak pada sex bebas. Pernyataan komitmen disertai dengan pemasangan gelang.

Setelah acara seminar anak muda di Soe, kami menuju ke desa untuk mengadakan penyuluhan kesehatan, pertanian dan sex bebas. Kami di bagi ke dalam dua tim kecil. Satu tim ke desa Oelet dan tim yang lainnya ke desa Pisan.  Saya berkesempatan untuk mengunjungi desa Oelet dan memberikan penyuluhan tentang demam berdarah. Penyakit yang mayoritas diderita oleh masyarakat desa Oelet adalah demam berdarah, TBC, dan magh. Masyarakat di Desa memiliki rumah adat yang disebut dengan “rumah bulat”. Di rumah inilah dilakukan berbagai aktivitas seperti masak dan tidur. Rumah bulat ini tertutup dan tidak memiliki fentilisasi yang baik oleh karena itu dapat menyebabkan banyak penyakit apabila masyarakat hidup di rumah tersebut. Di desa Oelet masyarakat sudah tidak tinggal di rumah bulat lagi karena masyarakat sudah memiliki kesadaran akan rumah yang sehat. Akan tetapi, masih ada beberapa warga yang hidup di rumah bulat. Pertanian di desa ini masih subsisten, hanya untuk dimakan sendiri. Bantuan Pertanian ke desa ini sangat banyak, akan tetapi tidak pernah ada penjelasan bagaimana penggunaan bantuan yang diberikan. Benih bantuan yang diberikan contohnya. Benih tersebut merupakan benih hibrida yang tidak dapat dijadikan bibit. Masyarakat tidak mengetahui informasi tersebut dan menjadikan hasil dari bibit hibrida menjadi bibit untuk masa tanam selanjutnya. Akhirnya masyarakat mengalami gagal panen dan tidak menggunakan bibit bantuan lagi. Ketika penyuluhan pertanian akhirnya dijelaskan tentang penggunaan bibit hibrida yang baik. Masyarakat di Desa sangat antusias untuk mendengarkan penjelasan dari penyuluh. Masyarakat Desa Oelet bukanlah orang yang “MALAS”, mereka hanyalah orang yang “TIDAK TAHU”

 Setelah dua hari di desa, akhirnya kami pun harus kembali ke kupang karena hari minggu kami harus kembali ke Bogor lagi. Sepanjang perjalanan menuju Soe, saya melihat anak-anak SD yang berjalan berkilo-kilo meter untuk pergi ke sekolah. Ini adalah fakta lain yang mematahkan persepsi bahwa orang NTT adalah orang yang malas. Mereka bukan anak-anak “MALAS” mereka hanya anak-anak yang “KURANG BERUNTUNG”. Mungkin di Pulau Jawa anak-anak tidak perlu berjalan berkilo-kilo meter ke sekolah, banyak transportasi yang dapat mengantar mereka dan mereka juga punya uang. Tetapi anak-anak itu, sekali pun dalam segala keterbatasan mereka tetap memiliki semangat untuk bersekolah.  Hanya saja setelah menempuh jarak sejauh itu mereka harus belajar di sekolah, dapat dibayangkan bagaimana mereka sulit untuk dapat berkonsentrasi belajar karena telah menempuh perjalanan berkilo-kilo meter menuju Sekolah.



Semua hal yang terjadi di negeri Timur ini mengajarkan saya banyak hal. Bagaimana perjuangan mereka untuk menjalani kehidupan yang serba kurang dengan senyuman. Semangat anak-anak muda untuk belajar yang besar, Tawa dan semangat belajar anak-anak kecil. Ini adalah sebuah negeri yang selalu dipandang sebelah mata tetapi menyimpan sejuta cerita dan kekayaan potensial Nusa Tenggara Timur..
J

Kondisi Tanah di NTT

Bersama Warga di Oelet

Matahari pagi

Rumah Bulat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar